Senin, 07 April 2008

Komunitas Belajar Baru

Komunitas SAnDi KerLiP memiliki komunitas baru!!! Sekarang kami melakukan tutorial asyik dua kali seminggu di lokasi belajar Vila Nusa Indah V. Anak kami, Raka, sangat tertarik untuk bergabung dengan beberapa teman di sana. Meski untuk ke sana dia harus menempuh perjalanan cukup jauh.
Selama beberapa minggu ini anak-anak diminta membaca kemudian mendiskusikan 7 habit-nya Stephen Covey. Ini hasil pointers Raka tentang Habit pertama.

Rangkuman Kebiasaan 1: Jadilah Proaktif!
ü Prinsip utama dari kebiasaan 1 ini adalah, ”Akulah sumber pendorong diriku sendiri. Akulah kapten hidupku. Aku bisa memilih sikap. Akulah yang bertanggungjawab atas kebahagiaan dan ketidak bahagiaanku sendiri. Akulah yang menjadi pengemudi, bukannya penumpang.”
ü Menurut Sean Covey (penulis buku ini), ada dua jenis orang di dunia ini. Orang yang proaktif dan orang yang reaktif.
ü Orang yang reaktif seolah selalu menganggap dirinya sebagai korban. Saat menentukan pilihan, reaksi, atau sikap, mereka hanya melakukannya berdasarkan naluri tanpa mengandalkan akal sehat, logika, dan hati nurani. Bisa dibilang bahwa orang reaktif bagaikan sebotol soda, karena jika dia diguncang oleh kehidupan, dia akan meledak. Selain itu, perasaan dan suasana hati mereka sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain. Istilahnya, dia memberikan remote control kehidupannya ke orang lain dan mempersilahkan orang itu mengubah-ubah salurannya.
ü Sifat-sifat lain dari orang reaktif adalah mudah tersinggung, cenderung menyalahkan orang lain, cepat marah dan mengucapkan kata-kata yang belakangan mereka sesali, cenderung merengek dan mengeluh, menunggu segalanya terjadi pada mereka, dan berubah hanya kalau perlu.
ü “Gejala-gejala” yang membedakan orang proaktif denngan orang reaktif diantaranya adalah bahasa yang digunakan. Contohnya adalah: “Aku memang begini kok.” Yang dimaksudkan mereka adalah, bukan aku yang bertanggung jawab atas sikapku. Aku tak mungkin berubah. Aku ditakdirkan jadi seperti ini, atau “Kalau saja aku tidak sekolah disini, punya pacar, tinggal di tempat lain…pasti aku bahagia.” Yang mereka maksud adalah, Aku tak bisa mengendalikan kebahagiaanku sendiri, keadaan yang mengendalikannya. Aku harus ada di keadaan tertentu sebelum bisa bahagia.
ü Orang proaktif, secara sederhana, adalah orang yang lebih optimis, berakal sehat, dan berkepala dingin dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak akan membiarkan kejadian-kejadian sederhana seperti diselak, dipotong jalannya, dll merusak harinya dan mengacaukan perasaannya. Mereka, tak seperti orang reaktif, berpikir sebelum bereaksi. Mereka sadar bahwa yang terjadi pada mereka tak bisa mereka kendalikan, tapi sikap dan reaksi mereka bisa dikendalikan. Orang proaktif ibarat air. Mau dikocok sehebat apapun, dia akan tetap tenang, dingin, dan terkendali.
ü Sikap lain dari orang proaktif adalah tidak mudah tersinggung, bertanggung jawab atas pilihannya sendiri, berpikir sebelum bertindak, cepat pulih setelah terjadi sesuatu yang buruk, selalu mencari jalan untuk menjadikan segalanya terlaksana, serta fokus pada hal yang bisa mereka ubah (yaitu diri sendiri) dan tak menguatirkan yang tak bisa mereka ubah (yang lain-lain).
ü Manfaat menjadi proaktif tentunya bermacam-macam. Dalam kisah nyata sang penulis, sang penulis bercerita tentang bagaimana dia berusaha menahan reaksi-reaksi ala orang yang reaktif dan bersikap proaktif pada ejekan rekan kerjanya. Kemudian si rekan yang suka mengejek malah heran kenapa sang penulis tidak tersinggung karena semua ejekan itu, dan dari situ mereka malah berubah saling menghormati dan menjadi teman baik. Selain itu, bersikap proaktif juga membuat kita lebih bisa menemukan kesalahan sendiri. Selain itu, 7 Kebiasaan (bersikap proaktif salah satunya) juga bisa membantu kita membuat perubahan seperti kisah Shane dari Midwest, yang berhasil membalikkan ”tradisi” keluarganya yang tidak pernah masuk kuliah dengan diterima di 3 Universitas.
ü Ada satu faktor lagi dalam bersikap proaktif, yaitu bersikap ”aku bisa”. Ini artinya selalu mengambil inisiatif dan tidak takut mengambil resiko. Menurut Covey, untuk berhasil dalam hidup kita, kita harus mengambil inisiatif. Dia memberi contoh seperti ini: Jika kau sedang ada di toko dan butuh bantuan, jangan tunggu pramuniaganya datang, carilah mereka.
ü Kebalikan sikap “aku bisa” adalah sikap “aku tidak bisa”. Perbedaannya ada di tabel ini:

Orang Yang Bersikap ”Aku Bisa”
Orang Yang Bersikap ”Aku Tidak Bisa”
Mengambil inisiatif untuk membuat semuanya terlaksana.
Menantikan sesuatu terjadi padanya.
Memikirkan solusi dan pilihan.
Memikirkan masalah dan hambatan.
Bertindak.
Jadi korban.

ü Menurut Covey, kita bisa mendapat kuasa untuk bersikap dan bereaksi proaktif dengan menekan tombol ”pause” yang ada di tengah dahi. Biasanya, hidup ini begitu cepat sehingga kita hanya bereaksi sesuai naluri. Jika kita berhenti sejenak, kita bisa menguasai diri dan merenungkan respons yang kau berikan. Jelas, dengan ini keputusan yang kita ambil lebih baik.
ü Sementara hidupmu sedang di ”pause”, bukalah kotak peralatanmu yang berisi 4 peralatan ampuh yang sudah menjadi bekal sejak lahir yaitu kesadaran diri (Aku bisa memisahkan diri dari diri sendiri dan mengamati pikiran dan perbuatanku.), hati nurani (Aku bisa mendengarkan batinku untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.), daya imajinasi (Aku bisa membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru.), dan kemauan (Aku punya kuasa untuk memilih). Gunakanlah peralatan-peralatan ini untuk membantumu membuat keputusan yang lebih baik.
ü Memang bersikap proaktif tidak mudah. Bersikap reaktif memang jauh lebih mudah. Tapi mulailah pelan-pelan. Katakanlah, dari 100 kesempatan bersikap reaktif atau proaktif, kita bersikap proaktif 20 kali. Lalu tingkatkanlah menjadi 30 kali, 40 kali, dst.
Langkah-Langkah Bayi
1. Lain kali seseorang membuatmu marah, berilah tanda damai sebagai balasanmu.
2. Dengarkanlah kata-katamu sendiri baik-baik. Hitunglah berapa kali kau menggunakan bahasa reaktif seperti ”Gara-gara kamu...”, ”Kenapa sih mereka tidak...”, atau ”Aku tidak bisa...”
Bahasa reaktif yang paling sering kugunakan adalah: .........................
3. Lakukanlah sesuatu hari ini yang dari dulu mau kau kerjakan tapi tidak berani. Tinggalkanlah wilayah amanmu dan kejarlah itu. Angkatlah tanganmu di kelas, atau bergabunglah dalam suatu tim.
4. Buat catatan Post-It untuk diri sendiri: ”Aku takkan membiarkan ..................... memutuskan bagaimana perasaanku”. Taruhlah di tempat yang mudah kau lihat, dan sering-seringlah membacanya.
5. Kalau ikut pesta/acara lain kali, jangan berdiam diri dan menunggu kegembiraan menghampirimu, kamulah yang harus mencarinya. Perkenalkan dirimu pada seorang teman baru.
6. Lain kali kau menerima yang kau anggap tidak adil, jangan marah-marah atau menangis karenanya, buatlah janji bertemu dengan gurumu untuk membahasnya dan lihatlah apa yang bisa kau pelajari.
7. Kalau kau bertengkar dengan orangtua atau teman, jadilah yang pertama kali meminta maaf.
8. Identifikasikan suatu hal yang tak dapat kau kendalikan yang selalu kau kuatirkan. Putuskanlah sekarang juga untuk melupakannya.
9. Tekanlah tombol pause sebelum bereaksi ke orang yang menabrakmu, menyelakmu, dll.
10. Gunakanlah kesadaran dirimu sekarang juga dengan bertanya pada diri sendiri, ”Kebiasaanku yang manakah yang paling tidak sehat?”. Putuskanlah untuk melakukan sesuatu padanya.

Tidak ada komentar: