Ini esai yang dibuat Raka untuk Kumon Indonesia. Topiknya tentang Jepang.
In Japan, there is the Harajuku method of dressing. But, how could Kimono last there? Amongst the increasing quantities of Animes and games, how on earth did the Noh theater continues with great response and vast audiences? While baseball is becoming more and more popular, how did sumo stayed afloat? Also, when western culture and way of life is adopted everywhere, how could the local customs last? And when fast food is becoming increasingly more popular, how can sushi and teriyaki stay on top? These questions are the matters to discuss in this article.
Harajuku, fast food, anime, and baseball are either the result of globalization and/or the Western world influence, altough it was the great desire of the Japanese to set a trend that moves them. But, if we look at Japan’s past we would be quite bamboozled to know that Japan used to have a very asocial and full-of-secrecy behaviour. So, when did this Westernization started?
You see, Japan used to be a feudal and asocial country controlled by Tokugawa Shoguns. But in the 1850’s, the Western nations, who is eager to trade with Japan, forced the nation to open its borders in the Kanagawa treaty. This action dispossessed the Shoguns in a coup d’etat, restoring the power of the emperor. And so, Prince Mutsuhito takes the throne, becoming the new emperor and took the name “Meiji”, which means “enlightened rule”. Under this new emperor, Japan began their westernization. The Japanese adopts the Western technology and clothing, artilleries and commercial ways in an action similar to those of Peter the Great, the tsar of Russian empire in the 1700’s. And by the 20th century, Japan has become one of the world’s major powers.
But, the first question still haunts us, “How could the culture of the indigenous Japan survive amidst the globalization and westernization?” I found the answer from a blog I found in Google. The writer of the article noted the Japanese history first. The writer said that the Samurais of Japan also has a task of educating Japanese childrens. In this education, the spirit to progress, love to their country, and pride for the Japanese culture are among the matters given. This spirit still remained in the hearts of Japanese people, altough no specific explanations were given on how the samurais teach the childrens. For the Japanese, its not the physical appearance that matters, its morality that holds the highest price and value. They always maintain good relationships with other peoples. They also have a need for achievement planted strongly in their hearts, which is a thing that triggers their spirit to progress. That’s why Japanese people are very balanced, they already have a strong mental basis.
Now I’ll give my own point of view. I agreed with the writer that the pride of Japanese people helps them to protect their culture. The enormous importance of morality also have some influence in here. Why? Because this behaviour, of course, would require politeness to others and respect to the elders. And, it’s a custom, so the family would obviously adopt it, and unquestionably, the parents would practise those customs to the children who will eventually do it based on the example set by their parents, thus making the children a very balanced person. Polite, but still fashionable.
Another thing is that the elders or anybody who has more knowledge on Japanese tradition promotes the tradition frequently, thus maintaining the popularity and recognition of the culture. The creativity of the Japanese in combining traditions with technology also holds a price. As an example, In a television report, I saw the combining of technology and tradition in the Japanese world. The caterpillars whose silk is used as base for the kimono dress, apparently produced something different from silk and by technology, this “other production” can be used as a medicine. Why does this holds a price? Actually, I know that technology and gadgets is a common hobby for teenagers. If it weren’t a hobby, why would many teenager magazines comment about gadgets? To be precise, the “tradition meets technology” act (that’s how I call it) the Japanese adults and knowledged peoples do increases the interests of peoples, especially teenagers, about traditions and avoids the “oldies” stereotype of local cultures amongst the Japanese, which maintains the culture.
But now, another big question appears. Can we do the same thing in Indonesia? Can we make the teenagers and childrens of Indonesia proud of their own culture? Because, the signs that we are “reckless” in protecting our identity are beginning to show, especially after the continouous disputes with the Malaysians who claims that our tradition is theirs.
But of course, some of us may persist, “The Japanese already have strong mentality of pride, we don’t have it!”. Actually, we already have a strong basis of pride. Our ancestors, who fought the Dutchs in the colonization era must have “infected” those kinds of pride to their descendants. The problem is, if in Japan the family is in an advantageous condition of building pride, almost all families in Indonesia does exactly the opposite (I’m not saying it as all, because some families, including mine, always encourages love and pride to my country and culture.) by buying lots of import goods with cliché reasons that indicates dislikeness of their own country, whether it is related to quality, glamor, etc. Some more “scary” families even stereotyped local traditions as “country-ish”. This attitude should be changed. By? By encouraging the childrens to love their country and pride their culture, making us a balanced country like Japan. Take them as a role model, and, don’t be afraid to learn to them.
Name of Author : Raka Ibrahim Anshafarie
Grade : 7th Grade
Age : 11 Years Old
School : SAnDi KerLiP
Kamis, 31 Januari 2008
Resume Deli setelah membaca buku
Judul buku the tale of despereaux
Pengarang Kate DiCamillo
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005
Ini adalah kisah tentanng despereaux tiling yang sangat kecil yang dibilang orangtuanya sakit karena ini :
1. dia dilahirkan dengan mata terbuka.
2. telinganya besar .
3. dia sering bersin – bersin.
4. Dia pingsan saat mendengar suara keras .
5. dia sangat kecil .
6. dll
dia juga suka kepada putri pea dan musik dia pernah masuk ke penjara -
bawah tanah hanya karena duduk di kaki raja dia
dan ini juga tentang tikus got bernama chiaroscuro yang hidup dalam gelap tapi sangat tertarik pada cahaya . dan juga kisah tentang miggery sow anak yang dijual hanya untuk taplak meja warna merah darah seekor ayam dan segenggam rokok . yang memiliki harapan yaitu dia ingin menjadi putri .
Pengarang Kate DiCamillo
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005
Ini adalah kisah tentanng despereaux tiling yang sangat kecil yang dibilang orangtuanya sakit karena ini :
1. dia dilahirkan dengan mata terbuka.
2. telinganya besar .
3. dia sering bersin – bersin.
4. Dia pingsan saat mendengar suara keras .
5. dia sangat kecil .
6. dll
dia juga suka kepada putri pea dan musik dia pernah masuk ke penjara -
bawah tanah hanya karena duduk di kaki raja dia
dan ini juga tentang tikus got bernama chiaroscuro yang hidup dalam gelap tapi sangat tertarik pada cahaya . dan juga kisah tentang miggery sow anak yang dijual hanya untuk taplak meja warna merah darah seekor ayam dan segenggam rokok . yang memiliki harapan yaitu dia ingin menjadi putri .
Pengalaman jumpa Qaisra Shahraz
Kemarin Raka ikut ibunya yang diminta menjadi moderator jumpa penulis buku "Perempuan Suci", Qaisra Shahraz. Berikut hasil laporannya.
Qaisra Shahraz adalah seorang penulis dan konsultan pendidikan Inggris yang berdarah Pakistan. Memiliki pekerjaan sebagai British OFSTED Inspector dan guru, sebelumnya menjadi penulis novel tak pernah terlintas dalam benaknya, meskipun pekerjaan sebagai penulis cerpen dan skenario acara TV pernah dilakoninya. Namun, pada suatu hari dia melihat sebuah laporan dalam sebuah film dokumenter Inggris. Film dokumenter ini mengekspos sebuah tradisi di Pakistan yang mengadakan tradisi “Perempuan Suci”. Perempuan suci adalah seorang perempuan yang tidak boleh menikah karena satu-satunya mempelai baginya adalah Al-Qur’an. Qaisra, meskipun memiliki darah Pakistan, tak mengetahui tradisi ini sebelumnya karena dia dibesarkan di tengah sekuleritas Britania Raya.
Dokumenter ini akhirnya menginspirasikannya untuk membuat sebuah buku novel yang berhubungan dengan tradisi itu. Kala itu, dia berpikir: “Alangkah bagusnya apabila tokoh utamanya (yang akhirnya menjadi perempuan suci) sebelumnya telah jatuh cinta pada seseorang.” Bermodalkan pemikiran cerdik ini, dia akhirnya menggubah sebuah novel roman. Meskipun begitu, selama proses pembuatan buku pertamanya, dia tidak total mengerjakan buku. Tuntutan pekerjaannya di bidang pendidikan membuatnya harus bekerja keras menyeimbangkan waktu antara menulis dan bekerja. Dalam seminggu, rata-rata dia hanya menghabiskan sekitar 10 jam untuk menulis. Lantas, bagaimanakah caranya mempertahankan semangatnya? Dia mengatakan bahwa kecintaannya pada para tokoh dan ceritanya adalah hal yang terus menggerakannya untuk menulis, menulis, dan menulis. Akhirnya, setelah 3 tahun menulis, buku pertamanya, The Holy Woman (2001) yang dalam edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Perempuan Suci, terbit. Buku ini mendapat respon meriah dari kritikus maupun massa. Golden Jubilee Award pun disabetnya. Qaisra kemudian berniat membuat buku lagi, namun, buku ini akan menggunakan setting, karakter, dan tetek bengek yang berbeda dari buku pertamanya. Tetapi, Qaisra merasa berat berpisah dengan karakter di buku lamanya. Penyelesaiannya? Dia memutuskan untuk mengambil karakter-karakter favoritnya di Perempuan Suci, dan menambahkannya kedalam buku keduanya. Alhasil, secara ”tidak sengaja”, buku keduanya menjadi sekuel The Holy Woman. Akhirnya, setelah 2 tahun dikerjakan, Typhoon (dalam edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Perempuan Terluka) dirilis pada tahun 2003.
Meskipun kegiatan menulis tetap digelutinya, dunia pendidikan dan rumah tangga tidaklah dilupakannya. Terus aktif sebagai inspektur bagi OFSTED, sebuah organisasi yang memonitor kualitas dan standar pendidikan di Britania Raya, dia kini tengah melakukan semacam proyek meneliti kehidupan wanita Muslim di seluruh dunia serta mengkampanyekan pendidikan bagi semua orang, anak maupun dewasa. Tindakan ini dikarenakan kepercayaannya bahwa pendidikan tidak pernah berakhir. Dan selain itu, tentunya dia sedang menulis buku ketiganya, yang sedang dalam tahap pengerjaan. Qaisra berharap, buku itu sudah selesai ditulis medio tahun depan. Namun, Qaisra memberi satu peringatan bagi para pembacanya: Buku ketiganya sangat tebal! Sekitar 500 halaman, dia berkata. Don’t worry, Mrs. Shahraz, we won’t mind! (At least most of us!)
Qaisra Shahraz adalah seorang penulis dan konsultan pendidikan Inggris yang berdarah Pakistan. Memiliki pekerjaan sebagai British OFSTED Inspector dan guru, sebelumnya menjadi penulis novel tak pernah terlintas dalam benaknya, meskipun pekerjaan sebagai penulis cerpen dan skenario acara TV pernah dilakoninya. Namun, pada suatu hari dia melihat sebuah laporan dalam sebuah film dokumenter Inggris. Film dokumenter ini mengekspos sebuah tradisi di Pakistan yang mengadakan tradisi “Perempuan Suci”. Perempuan suci adalah seorang perempuan yang tidak boleh menikah karena satu-satunya mempelai baginya adalah Al-Qur’an. Qaisra, meskipun memiliki darah Pakistan, tak mengetahui tradisi ini sebelumnya karena dia dibesarkan di tengah sekuleritas Britania Raya.
Dokumenter ini akhirnya menginspirasikannya untuk membuat sebuah buku novel yang berhubungan dengan tradisi itu. Kala itu, dia berpikir: “Alangkah bagusnya apabila tokoh utamanya (yang akhirnya menjadi perempuan suci) sebelumnya telah jatuh cinta pada seseorang.” Bermodalkan pemikiran cerdik ini, dia akhirnya menggubah sebuah novel roman. Meskipun begitu, selama proses pembuatan buku pertamanya, dia tidak total mengerjakan buku. Tuntutan pekerjaannya di bidang pendidikan membuatnya harus bekerja keras menyeimbangkan waktu antara menulis dan bekerja. Dalam seminggu, rata-rata dia hanya menghabiskan sekitar 10 jam untuk menulis. Lantas, bagaimanakah caranya mempertahankan semangatnya? Dia mengatakan bahwa kecintaannya pada para tokoh dan ceritanya adalah hal yang terus menggerakannya untuk menulis, menulis, dan menulis. Akhirnya, setelah 3 tahun menulis, buku pertamanya, The Holy Woman (2001) yang dalam edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Perempuan Suci, terbit. Buku ini mendapat respon meriah dari kritikus maupun massa. Golden Jubilee Award pun disabetnya. Qaisra kemudian berniat membuat buku lagi, namun, buku ini akan menggunakan setting, karakter, dan tetek bengek yang berbeda dari buku pertamanya. Tetapi, Qaisra merasa berat berpisah dengan karakter di buku lamanya. Penyelesaiannya? Dia memutuskan untuk mengambil karakter-karakter favoritnya di Perempuan Suci, dan menambahkannya kedalam buku keduanya. Alhasil, secara ”tidak sengaja”, buku keduanya menjadi sekuel The Holy Woman. Akhirnya, setelah 2 tahun dikerjakan, Typhoon (dalam edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Perempuan Terluka) dirilis pada tahun 2003.
Meskipun kegiatan menulis tetap digelutinya, dunia pendidikan dan rumah tangga tidaklah dilupakannya. Terus aktif sebagai inspektur bagi OFSTED, sebuah organisasi yang memonitor kualitas dan standar pendidikan di Britania Raya, dia kini tengah melakukan semacam proyek meneliti kehidupan wanita Muslim di seluruh dunia serta mengkampanyekan pendidikan bagi semua orang, anak maupun dewasa. Tindakan ini dikarenakan kepercayaannya bahwa pendidikan tidak pernah berakhir. Dan selain itu, tentunya dia sedang menulis buku ketiganya, yang sedang dalam tahap pengerjaan. Qaisra berharap, buku itu sudah selesai ditulis medio tahun depan. Namun, Qaisra memberi satu peringatan bagi para pembacanya: Buku ketiganya sangat tebal! Sekitar 500 halaman, dia berkata. Don’t worry, Mrs. Shahraz, we won’t mind! (At least most of us!)
Kamis, 24 Januari 2008
Belajar berorganisasi
Komunitas HS kami (KerLiP) meminta anak-anak menyelenggarakan Lomba Foto pekerja anak
dalam upayanya ikut mengkampanyekan stop pekerja anak. Ada beberapa hal menarik yang terjadi selama anak-anak melakukan persiapan acara yang dari hasil rapat mereka memutuskan
akan dilaksanakan pada 2 Maret 2008.
Anak-anak yang kesemua pelaku HS ini berkumpul pertama kali di MP Book Point.
Usai diberi taklimat tentang bentuk acara yang diinginkan dan tujuannya, mereka kemudian
menyusun kepanitiaan. Dipilih secara aklamasi ketuanya karena kemampuan anak dan minat si anak
dalam fotografi. Lalu Raka menawarkan diri menjadi Humas karena dia merasa paling cocok
dengan posisi itu. Mereka juga menyepakati rapat akan diadakan dua kali semingu,
yaitu hari Rabo dan Jumat di Margocity Depok. Rapat pertama berjalan lancar namun komunikasi
belum terjalin. Masih banyak yang memilih diam dan mendengarkan.
Tiba saatnya haru Selasa, karena kesibukan, saya tidak bisa mendampingi mereka untuk rapat,
walhasil banyak kendala yang dihadapi ketua di hari pertama tugasnya itu. Ada anak yang datang sangat terlambat hingga terkesan menyepelekan kegiatan, sulit sekali membangun konsentrasi teman-temannya yang terdiri dari beragam usia dan tingkatan kelas. Singkatnya, dia menghadapi permasalahan organisasi
seharu-hari (ingatkan, istilah 4L, Lu lagi Lu lagi!)
Esoknya, si ketua menghubungi saya dan sambil menangis menyatakan ingin mengundurkan diri dari kepanitiaan. Saya coba bujuk dan besarkan hatinya, tapi rupanya beban yang dia bayangkan sudah begitu besar hingga saya katakan dia harus meminta kerelaan teman-temannya.
Rapat Jumat diputuskan dilakukan di rumah Zaky jadi berkumpullah kami berbondong-bondong ke sana. Ada anggota baru Farisa dan Auzan yang baru akan mempertimbangkan metode HS sebagai pilihan mereka. Timbul lagi interaksi-interaksi menarik dari anak-anak. Adanya anak baru yang masih sangat formal dan satunya sangat aktif membuat mereka harus kembali beradaptasi. Kemerdakaan yang berusaha kami berikan diuji!
Saat rapat yang kemudian molor karena anak-anak masih asyik mengeksplor teman barunya (termasuk ibunya asyik berbincang dengan teman baru heheheheeh!!!), sang Ketua menyampaikan keinginannya unuk mengundurkan diri. Saya mengatakan, teman-temannya harus bisa menghargai hak sang Ketua untuk tidak menghendaki keberadaannya di kepengurusan tapi pada sang Ketua saya juga meminta dia menghargai hak teman-temannya untuk tidak diguncang kestabilan kepengurusannya. Jadi singkatnya saya minta mereka menerapkan kemerdekaannya dengan memperhatikan kemerdekaan orang lain.
Apa yang terjadi? Akhirnya mereka bersepakat untuk mengganti Ketua dan menempatkan sang Ketua ke dalam posisi yang lebih nyaman untuknya!!! Luar biasa, sebuah win-win solution yang hebat!
Lalu dengan terjadinya pergeseran itu, anak-anak memutuskan melakukan pergeseran di posisi kepanitaan yang lain. Jadilah hari itu lebih sibuk menegosiasikan posisi dan belajar tugas-tugas dari tiap posisi. Bagaimana dengan jagoan kami si Raka? Dia tetap mantap dengan pilihannya sebagai Humas...
Rapat ditutup dengan hasil kepanitaan yang baru dan jadwal rapat diubah menjadi Senin-Kami pagi
dan bertempat di Wisma Kodel tempat kantor KerLiP agar lebih efektif.
Senin pagi kami berkumpul di Kodel. Awalnya anak-anak ribut saling memotong pembicaraan dan kadang-kadang hanya dengan maksud untuk mengganggu atau melucu. Lalu saya mengatakan sebaiknya kita belajar menghargai forum dan belajar adab berbicara di dalam forum. Mereka akhirnya memutuskan untuk memberikan denda 500 rupiah bagi mereka yang memotong pembicaraan orang atau membicarakan hal yang tidak berkaitan dengan forum. Kembali...Luar biasa!
Di sesi itu saya mencoba mengajak mereka memtuskan jenis acara yang akan dilakukan. Nah, ini kegiatan yang mereka usulkan:
1. Lomba foto dan pameran foto pekerja anak --> untuk anak-anak SMA. Saat membayangkan SMA, Adina menyatakan berapa banyak SMA yang akan kita undang, berapa banyak pesertanya? Mengingat jumlah yang luar biasa serta keterbatasan kemampuan, mereka memutuskan hanya mengundang SMA di JakSel dan dibatasi 30 SMA.
2. Seminar tentang stop pekerja anak --> usulan ini datang dari Fitri dan Raka, mengingat tujuannya adalah meningkatkan kesadaran remaja tentang keberadaan para pekerja anak ini, mereka memandang perlu untuk mengadakan seminar.
3. Bazar --> agar khalayak yang dicapai lebih besar dan mengurangi biaya konsumsi, anak-anak memutuskan diadakan bazar dimana foto-foto peserta akan dipajang di sana. Masih terjadi perdebatan tentang bentuk pentas seni yang akan digelar di bazar itu.
Rapat ditutup dengan masing-masing mendapat tugas menggali tentang pekerja anak untuk kemudian didiskusikan bersama di hari Senin.
Kamis, mulai yang datang hanya sedikit. Tapi anak-anak tetap bersemangat. Hari itu diselesaikan timeline kegiatan. Dan pembuatannya sangat merinci tanpa perdebatan yang alot, rupanya mereka punya kerangka kerja yang sama jadi tidak sulit menyatukannya. Yang menarik, mereka memilih untuk Senin berapat di Bogor, rumah teman mereka yang saat ini sedang mendapatkan musibah, ayahnya sakit. Akibatnya kedua teman mereka ini tidak bisa aktif di kegiatan komunitas. Diputuskan kami akan bertemu Senin pagi di Tamini dan berangkat bersama-sama naik bis ke Bogor.
Bagaimana proses Senin? Tunggu Selasa ya...
Selasa, 22 Januari 2008
My Life
My name is Raka Ibrahim Anshafarie. I am 11 years old. I had a rather interesting family. I am the biggest child in my family and had one younger brother named Sulaiman Deli Ramadhanie, who is 7 years old. My mother is 34, and her name is Anastasia Rima Hendrarini. She prefers to be called “Lovely”, though. My father is 36 years old, and his name is Arie M.P Rachmadie. Unlike my “explosive” and expressive mother, my father is somewhat more introvert, really. My father comes from a religious background of family originated in Medan and Central Java. To be precise, my father’s mother comes from Medan, but my father’s father (what?!) comes from Solo. My mother’s background, however, is somewhat different with my father’s background. Both of her parents come from East Java, and her family may not be the most religious of families. On the other hand, my mother’s family does have an interesting history, considering that her grandfather from her mother’s side, who, sadly, died in 2006, struggles with the nation in the battle against Dutch and Japanese colonization era. Moreover, my mother’s grandfather (who I usually call Mbah Kakung) is the descendant from one of Prince Diponegoro’s most trusted person. Don’t believe it? Come to my great-grandmother’s home in Surabaya, she kept maybe 4 of Prince Diponegoro’s weapon. The family of my mother’s father also has an interesting history. Particularly because my mother’s father (my grandfather) is the son of Dr. Soegiri, whose name is said to become the name of Lamongan’s hospital, and also the relatives of Abdurrahman Saleh, one of the national hero. My grandfather said that his father (Dr.Soegiri) was the, if I’m not mistaken, cousin of Abdurrahman Saleh. About my father’s family, I don’t know very much about them. But I know that almost all of the member of their family had done the Haji, proving that religion is somewhat precious to them.
Well, that’s my family. But what about my hobbies? I’ll tell you this, I loved soccer very much. Whether it is playing it for real, playing it in games, or just watch a match, I love soccer. My favourite clubs includes Chelsea who, I believe, had experienced a troubled start this season and will soon recover, the German national team and Bayern Muenchen. Though lately I’ve grown rather fond of Ajax Amsterdam and the Dutch national team, the first two teams and the one national team are my favourite. Playing games and watching film is also my favourite, but reading books is almost an incessant habit to me. My favourite books include the Max Remy Superspy series by Deborah Abela, Alex Rider series by Anthony Horowitz, and, my personal favourite, the Artemis Fowl series by Eoin Colfer.
I don’t go to school, really. Instead, I study at home or, more frequently known as Home Schooling. There, I experienced something I would like to describe as pure eden. I decide what to do everyday, how long should I do it, the projects for this week, and more importantly, I have the most flexible of times. Because I have a part in making the weekly schedule I regularly use, I can adjust the schedule so that if our family plans for a recreation, gathering, etc, my schedule wouldn’t be ruined despite the fact that I went away for a recreation. Cool, eh?
I have a big ambition to be a writer when I’m older. Not a non-fiction writer, hardly. I desire to be a novel writer, much like Joanne Kathleen Rowling, the writer of the Incredibly famous Harry Potter series. In fact, I have already written a book. It’s a spy story, like James Bond, Alex Rider, or Max Remy. I must confess, I’m a lover of spy stories. Though my parents forbid me to read James Bond because of the “Adult-ish” contents, I have read quite a lot of spy stories and decided to make one. It’s not finished, but I’m working on it and the prototype has been submitted to Mizan, and I hope they like it.
There’s only one word to describe my life,
Wunderbar! (German for wonderful)
Langganan:
Postingan (Atom)
