Selasa, 08 April 2008

Jadwal harian Deli kami

Jadwal harian deli (09 - 04 - 2008 )
1 05.00 – 06.00 Tidur
2 06.00 – 07.00 Tidur
3 07.00 – 08.00 Bangun / tidur sebentar lagi
4 08.00 – 09.00 Tidur lagi / bikin jadwal / mandi
5 09.00 – 10.00 Sarapan
6 10.00 – 11.00 Baca buku
7 11.00 – 12.00 Kumon 3
8 12.00 – 13.00 Latihan biola
9 13.00 – 14.00 Cact Pertumbuhan hewan
10 14.00 – 15.00 Cact pertumbuhan hewan
11 15.00 – 16.00 Baca buku / kumon 4
12 16.00 – 17.00 Tidur siang
13 17.00 – 18.00 Mandi / ngaji
14 18.00 – 19.00 bebas
15 19.00 – 20.00 bebas
16 20.00 – 21.00 Persiapan tidur
17 21.00 – 22.00 Tidur
18 22.00 – 23.00 Tidur
19 23.00 – 24.00 Tidur

Senin, 07 April 2008

Komunitas Belajar Baru

Komunitas SAnDi KerLiP memiliki komunitas baru!!! Sekarang kami melakukan tutorial asyik dua kali seminggu di lokasi belajar Vila Nusa Indah V. Anak kami, Raka, sangat tertarik untuk bergabung dengan beberapa teman di sana. Meski untuk ke sana dia harus menempuh perjalanan cukup jauh.
Selama beberapa minggu ini anak-anak diminta membaca kemudian mendiskusikan 7 habit-nya Stephen Covey. Ini hasil pointers Raka tentang Habit pertama.

Rangkuman Kebiasaan 1: Jadilah Proaktif!
ü Prinsip utama dari kebiasaan 1 ini adalah, ”Akulah sumber pendorong diriku sendiri. Akulah kapten hidupku. Aku bisa memilih sikap. Akulah yang bertanggungjawab atas kebahagiaan dan ketidak bahagiaanku sendiri. Akulah yang menjadi pengemudi, bukannya penumpang.”
ü Menurut Sean Covey (penulis buku ini), ada dua jenis orang di dunia ini. Orang yang proaktif dan orang yang reaktif.
ü Orang yang reaktif seolah selalu menganggap dirinya sebagai korban. Saat menentukan pilihan, reaksi, atau sikap, mereka hanya melakukannya berdasarkan naluri tanpa mengandalkan akal sehat, logika, dan hati nurani. Bisa dibilang bahwa orang reaktif bagaikan sebotol soda, karena jika dia diguncang oleh kehidupan, dia akan meledak. Selain itu, perasaan dan suasana hati mereka sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain. Istilahnya, dia memberikan remote control kehidupannya ke orang lain dan mempersilahkan orang itu mengubah-ubah salurannya.
ü Sifat-sifat lain dari orang reaktif adalah mudah tersinggung, cenderung menyalahkan orang lain, cepat marah dan mengucapkan kata-kata yang belakangan mereka sesali, cenderung merengek dan mengeluh, menunggu segalanya terjadi pada mereka, dan berubah hanya kalau perlu.
ü “Gejala-gejala” yang membedakan orang proaktif denngan orang reaktif diantaranya adalah bahasa yang digunakan. Contohnya adalah: “Aku memang begini kok.” Yang dimaksudkan mereka adalah, bukan aku yang bertanggung jawab atas sikapku. Aku tak mungkin berubah. Aku ditakdirkan jadi seperti ini, atau “Kalau saja aku tidak sekolah disini, punya pacar, tinggal di tempat lain…pasti aku bahagia.” Yang mereka maksud adalah, Aku tak bisa mengendalikan kebahagiaanku sendiri, keadaan yang mengendalikannya. Aku harus ada di keadaan tertentu sebelum bisa bahagia.
ü Orang proaktif, secara sederhana, adalah orang yang lebih optimis, berakal sehat, dan berkepala dingin dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak akan membiarkan kejadian-kejadian sederhana seperti diselak, dipotong jalannya, dll merusak harinya dan mengacaukan perasaannya. Mereka, tak seperti orang reaktif, berpikir sebelum bereaksi. Mereka sadar bahwa yang terjadi pada mereka tak bisa mereka kendalikan, tapi sikap dan reaksi mereka bisa dikendalikan. Orang proaktif ibarat air. Mau dikocok sehebat apapun, dia akan tetap tenang, dingin, dan terkendali.
ü Sikap lain dari orang proaktif adalah tidak mudah tersinggung, bertanggung jawab atas pilihannya sendiri, berpikir sebelum bertindak, cepat pulih setelah terjadi sesuatu yang buruk, selalu mencari jalan untuk menjadikan segalanya terlaksana, serta fokus pada hal yang bisa mereka ubah (yaitu diri sendiri) dan tak menguatirkan yang tak bisa mereka ubah (yang lain-lain).
ü Manfaat menjadi proaktif tentunya bermacam-macam. Dalam kisah nyata sang penulis, sang penulis bercerita tentang bagaimana dia berusaha menahan reaksi-reaksi ala orang yang reaktif dan bersikap proaktif pada ejekan rekan kerjanya. Kemudian si rekan yang suka mengejek malah heran kenapa sang penulis tidak tersinggung karena semua ejekan itu, dan dari situ mereka malah berubah saling menghormati dan menjadi teman baik. Selain itu, bersikap proaktif juga membuat kita lebih bisa menemukan kesalahan sendiri. Selain itu, 7 Kebiasaan (bersikap proaktif salah satunya) juga bisa membantu kita membuat perubahan seperti kisah Shane dari Midwest, yang berhasil membalikkan ”tradisi” keluarganya yang tidak pernah masuk kuliah dengan diterima di 3 Universitas.
ü Ada satu faktor lagi dalam bersikap proaktif, yaitu bersikap ”aku bisa”. Ini artinya selalu mengambil inisiatif dan tidak takut mengambil resiko. Menurut Covey, untuk berhasil dalam hidup kita, kita harus mengambil inisiatif. Dia memberi contoh seperti ini: Jika kau sedang ada di toko dan butuh bantuan, jangan tunggu pramuniaganya datang, carilah mereka.
ü Kebalikan sikap “aku bisa” adalah sikap “aku tidak bisa”. Perbedaannya ada di tabel ini:

Orang Yang Bersikap ”Aku Bisa”
Orang Yang Bersikap ”Aku Tidak Bisa”
Mengambil inisiatif untuk membuat semuanya terlaksana.
Menantikan sesuatu terjadi padanya.
Memikirkan solusi dan pilihan.
Memikirkan masalah dan hambatan.
Bertindak.
Jadi korban.

ü Menurut Covey, kita bisa mendapat kuasa untuk bersikap dan bereaksi proaktif dengan menekan tombol ”pause” yang ada di tengah dahi. Biasanya, hidup ini begitu cepat sehingga kita hanya bereaksi sesuai naluri. Jika kita berhenti sejenak, kita bisa menguasai diri dan merenungkan respons yang kau berikan. Jelas, dengan ini keputusan yang kita ambil lebih baik.
ü Sementara hidupmu sedang di ”pause”, bukalah kotak peralatanmu yang berisi 4 peralatan ampuh yang sudah menjadi bekal sejak lahir yaitu kesadaran diri (Aku bisa memisahkan diri dari diri sendiri dan mengamati pikiran dan perbuatanku.), hati nurani (Aku bisa mendengarkan batinku untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.), daya imajinasi (Aku bisa membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru.), dan kemauan (Aku punya kuasa untuk memilih). Gunakanlah peralatan-peralatan ini untuk membantumu membuat keputusan yang lebih baik.
ü Memang bersikap proaktif tidak mudah. Bersikap reaktif memang jauh lebih mudah. Tapi mulailah pelan-pelan. Katakanlah, dari 100 kesempatan bersikap reaktif atau proaktif, kita bersikap proaktif 20 kali. Lalu tingkatkanlah menjadi 30 kali, 40 kali, dst.
Langkah-Langkah Bayi
1. Lain kali seseorang membuatmu marah, berilah tanda damai sebagai balasanmu.
2. Dengarkanlah kata-katamu sendiri baik-baik. Hitunglah berapa kali kau menggunakan bahasa reaktif seperti ”Gara-gara kamu...”, ”Kenapa sih mereka tidak...”, atau ”Aku tidak bisa...”
Bahasa reaktif yang paling sering kugunakan adalah: .........................
3. Lakukanlah sesuatu hari ini yang dari dulu mau kau kerjakan tapi tidak berani. Tinggalkanlah wilayah amanmu dan kejarlah itu. Angkatlah tanganmu di kelas, atau bergabunglah dalam suatu tim.
4. Buat catatan Post-It untuk diri sendiri: ”Aku takkan membiarkan ..................... memutuskan bagaimana perasaanku”. Taruhlah di tempat yang mudah kau lihat, dan sering-seringlah membacanya.
5. Kalau ikut pesta/acara lain kali, jangan berdiam diri dan menunggu kegembiraan menghampirimu, kamulah yang harus mencarinya. Perkenalkan dirimu pada seorang teman baru.
6. Lain kali kau menerima yang kau anggap tidak adil, jangan marah-marah atau menangis karenanya, buatlah janji bertemu dengan gurumu untuk membahasnya dan lihatlah apa yang bisa kau pelajari.
7. Kalau kau bertengkar dengan orangtua atau teman, jadilah yang pertama kali meminta maaf.
8. Identifikasikan suatu hal yang tak dapat kau kendalikan yang selalu kau kuatirkan. Putuskanlah sekarang juga untuk melupakannya.
9. Tekanlah tombol pause sebelum bereaksi ke orang yang menabrakmu, menyelakmu, dll.
10. Gunakanlah kesadaran dirimu sekarang juga dengan bertanya pada diri sendiri, ”Kebiasaanku yang manakah yang paling tidak sehat?”. Putuskanlah untuk melakukan sesuatu padanya.

Rabu, 06 Februari 2008

Deliku sayang.....

Sudah satu bulan ini KerLiP memiliki banyak sekali kegiatan yang harus saya koordinasi, akibatnya waktu saya berada di rumah makin jarang. Anak saya tercinta, Deli, 7 tahun rupanya paling merasakan dampaknya. Anak yang sengaja kami hentikan percepatan akademisnya karena khawatir terlalu cepat dan menghilangkan keceriaannya ini tiba-tiba kembali ke kondisi lama, tantrum!!!! Laporan masuk hampir tiap minggu.. Deli ngamuk di Kumon!..Deli ngamuk di rumah!...Deli ngamuk di ILP!!!! Aduh!!!
Saya masih kebingungan tapi kesimpulan sementara adalah karena ibunya yang terlalu sering pergi dan jarang menyertakan dia. Jadi saya usahakan meluangkan waktu untuknya sekarang dan mengajak dia sesering mungkin ke acara KerLiP. Tapi tantrum itu membuat semua jadwal berantakan!!!
Akhirnya Deli tercinta untuk sementara kehilangan hak menonton Indovision, DVD dan juga main game selama satu minggu. Dan selama masa itu dia kami minta mencoba melakukan kegiatan ala sekolah. Yaitu dibuatkan jadwal oleh ibunya dan ditentukan pembelajarannya...
Kasihan anak merdekaku ini... Meski tetap dengan senyum dan tanpa beban, dia mengerjakan tugas yang saya berikan hari ini dan selesai semua!!! Bahkan dia keasyikan mengerjakan soal Matematika sampai jam yang kami tentukan terlewat!!! Tapi sedih juga...ada kemunduran, karena dia tidak lagi menentukan sendiri kegiatannya.
Tapi disepakati itu hanya akan berlangsung 2 minggu kemudian Deli bisa kembali ke pola semula. Memang ada kendala karena Deli adalah anak produk HS murni. Dia sejak awal merdeka dari kewajiban sekolah dan sejak awal dimerdekakan untuk menentukan jadwal, kegiatan dan percepatan belajarnya...
Deliku Sayang...cepat rebut kembali kemerdekaanmu dari tangan Mama...
Selamat berproses, Sayang.
Lovely KerLiP

Stop Pekerja Anak

Sebagai salah satu usaha memahami tujuan pelaksanaan lomba foto Stop Pekerja Anak, peserta didik SAnDi KerLiP diajak berdiskusi tentang pekerja anak dengan anak-anak rumahkerlip.
Diskusi dibuka dengan penyamaan persepsi tentang pekerja dan anak. Luar biasa, lewat diskusi itu mereka bisa menemukan sendiri bahwa pekerja adalah mereka yang punya pekerjaan, diberi upah dan punya majikan. Anak-anak juga disimpulkan yang berusia di bawah 18 tahun meski ukuran mereka ada yang KTP atau fisik. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi apakah anak yang disuruh bekerja terlanggar haknya. Diskusi ini agak panjang dan ditemukan perbedaan antara anak SAnDi KerLiP dan rumahkerlip. Meski dalam hati tidak suka bekerja dan lebih suka belajar, bergaul dengan teman, bermain dan rekreasi, mereka menyatakan anak-anak SAnDi lebih beruntung karena diberkahi kemewahan tidak perlu mencarikan tambahan pemasukan untuk keluarga. Ini menarik, satu sisi kami berharap anak-anak (termasuk Raka) bisa melihat dan belajar tentang kehidupan "berbeda" dari dunianya sekarang. Ujung-ujungnya sih belajar bersyukur dengan keadaannya. Lebih jauh, Raka yang notabene mengalami loncatan kognitif bisa belajar menerangkan poinnya dengan bahasa yang bisa dipahami anak-anak marjinal ini. Rupanya cukup membuat Raka berpikir keras. Akhirnya dia memutuskan untuk menjelaskan asal muasal adanya pekerja anak yang menurut temuan Raka dimulai saat Revolusi Industri.
Diskusi tidak selesai dilakukan karena belum ada kesepakatan tentang adanya pelanggaran hak pada anak yang bekerja. Akhirnya diputuskan besok mulai lagi tapi sebelumnya tiap anak diminta melamun kondisi ideal kehidupan di mana himpitan ekonomi ditiadakan. Apakah sebenarnya mereka ingin bekerja? Apa sebenarnya yang mereka inginkan?
Besok kami akan berdiskusi lagi di Kampung Jawa. Nanti akan saya posting lagi hasilnya.
Salam,
Lovely KerLiP

Kamis, 31 Januari 2008

A Homeschooler’s Life

What is homeschooling? Many peoples have their own stereotype. But, based on my experience, almost everybody simply clarify it as “schooling at home”. As a result they suggest that the appearance of teachers, chairs, white board, and other elements supporting formal learning would obviously become a must. But before we become bamboozled by this “misperception”, let’s hear how the experts illuminate homeschooling.
The American homeschooling expert Mary Griffith states in her inspirational book, The Unschooling Handbook, that homeschooling is a style of education that gives children the liberty to learn as he wish without being limited by time, curriculum and other things that, in many cases, put a boundary on the children. To be honest, I think that this is the most agreeable perception of homeschooling. But, another opinion from Kak Seto, the “local-face” in terms of education expert, is quite a thing to hear. He declares that homeschooling is an alternative way of education that puts children as a subject (not as an object) by using an “at home” approach that gives the children convenience in learning. Pretty complicated indeed, Kak Seto.
In common, there are four types of homeschooling. The first one is the traditional type of homeschooling. This one, if I may say, is constant with what I had said earlier. This is the main stereotype of homeschooling. Because, honestly, this type of homeschooling only “moved” the school inside the house. So, this means that curriculum is still alive and well, teachers exist, and other formal equipments and requirements are compulsory to do this type of homeschooling properly. The way of learning usually doesn’t change much than those of formal schools. Another type of homeschooling is Unit Study. This sort of homeschooling, in my opinion, is somewhat radical and slightly controversial. Why is that so? Because, in this homeschooling, let’s say the homeschooler (a popular nickname for homeschooling students) only want to learn mathematics, then so be it. Mathematics would be the only thing he will learn as long as the homeschooler’s family still uses the method of Unit Study. After that, along came Eclectic Homeschooling. This literally is the result of a mixture between Unit Study and traditional homeschooling. The difference is, in this type of homeschooling subject matter (theme) is given to the homeschooler, making the learning process slightly easier. And after that came unschooling. In this type of homeschooling, children are encouraged to learn from a wide variety of references. Whether it is from internet, books, encyclopedias, or other things that could be used as a source of information. All types of homeschooling have its own weakness and strengthens, and it’s your choice to pick which one is the best.
Equipments needed to do homeschooling are, essentially, simple. But, it depends on the type of homeschooling you pick. Fancy some traditional homeschooling? Look for some teachers and buy utensils supporting formal tutelage like chairs, whiteboard, etc. Be sure that a curriculum is set, and basically, just move the formal school inside the house. If you prefer to use Unit Study as your homeschooling modus operandi, prepare all things that match the children’s interest. Example, if your “homeschooler-to-be” is captivated by Geography, buy some atlas, globes, and other equipments supporting Geographic learning. If you decide that Eclectic homeschooling is the most agreeable selection, you must prepare both of the equipments needed in the traditional type and the Unit Study.
But, the basic question asked to me when I told them of my identity as a homeschooler, obviously, is why? Why do I choose homeschooling amidst the increasing quantities of “high quality” schools? Honestly, when my parents told me about homeschooling, my doubts are on its highest level. At that time, I thought that going to school and taking lessons is the only option to get a proper mode of education, my mind is still very academic. Another thing is that I have never really heard of homeschooling before. But, I then look at the other side of homeschooling. The “Independence Factor” on children which, sadly, is being violated in many formal schools everywhere, is guaranteed at homeschooling. I became more and more tempted after my parents gave me a learning plan I agreed on. But there is still one thing that bugs me at that time. What is it? Yep, socialization. Of course, at that time I have no idea on how to look for friends outside school and lessons. Moreover, socializing with children in my neighborhood is never a frequent behavior. But, my parents assure me that I could still have friends because, going to school doesn’t assure my socialization, but is my will to socialize and make new friends. Even if I was studying in a school with 95 students each class, if I refused to socialize, am I going to get a friend? Instantly, I agreed with this perception. Furthermore, my parents assure me that the spare times available in homeschooling would allow me to take more lessons, and even Forrest Gump would know that lessons are one way to gain more friends. And so, bedazzled by the prospect of homeschooling, I chose to accept the offer of doing homeschooling. It’s just too good to refuse. In the end, it’s my parent’s influence that made me go homeschooling.
At first, it’s not easy. I have to get used to a new type of learning, and a new type of liberality. Although liberty and independence has long become my dream, I found it hard to accomplish even after I have all the necessary facilities. Moreover, my family’s decision to go homeschooling is responded in an unappreciative manner by our relatives. This is a thing that, I think, happens to almost all children who has only started homeschooling. Take a look at the experience of “Salatiga’s Bill Gates”, M.Izza Ahsin. Having had enough of school, he decided to go homeschooling. At first, his decision to drop out of school was highly opposed by everyone, even his parents. But after continuous negotiations, at last he became a homeschooler amidst the disillusionment of his relatives. And now, he’s quite a writer, making an inspirational yet controversial book called A World Without School (Dunia Tanpa Sekolah). The thing that happened to him also happened to me. Although my relatives are not as oppressive as his. Almost everybody in my family criticized our decision, and sometimes they persuaded me and my little brother Deli who also joins homeschooling to go back to school. But our family persisted. So, we continued our homeschooling method despite the continuous criticism from my relatives. But, amidst those criticisms, sarcasm, and skepticism, me and my brother enjoyed this homeschooling and can only describe it as, wow.
Despite the fact that many disputes came after the almost-frequent rule breakings and the never-ending sarcasm and misunderstandings continue the liberty to choose for your own, the liberation to be yourself and the emancipation to arrange your own undertakings seems to have abolished all those criticisms. By allowing me to be myself, I gained extra credit in confidence, thus encouraging me to express my interpretation and opinion more than I use to. In homeschooling, I’m also encouraged to make my own schedule. I judge by myself whether it is realistic enough, whether it could accommodate my objective for today or not, and so on and so forth. This policy helps me to be less reliant to other people. Moreover, the principal of homeschooling (my homeschooling, at least) which is “we can learn everywhere, about anything, at any time, and to anyone” really gives me a great deal of convenience. This allows me to learn of something even when I was on the airport. To top it all, homeschooling really did change my life.
But of course, one of every homeschooler-to-be’s nost common fear is about one thing, socialization. Of course, in some people’s point of view, the fact that homeschoolers merely stayed at home disables them to socialize properly with the surrounding world. But the real fact apparently says that homeschooler didn’t just stay at home and learn things. Because approximately 7 hours of their time isn’t used to go to school, homeschoolers obviously has a lot of spare time. This spare time allows the homeschoolers, other than going to lessons, which I have mentioned before, to just go to ceremonies and shows with children there. It would be better if the children follow a homeschooling community. Annually, homeschooling communities (or at least, my homeschooling community) held a show in certain places. Usually, other homeschooler attends that show, and a chance of socialization submerged itself. I also heard one of Kak Seto’s sayings, and I depict that, based on that opinion, ordinary school children does have friends. Yes, that means their socialization wheel is still turning. So, what’s the special thing about it? They meet the same friends everyday. They socialize with the same friends everyday. They have many friends, but their friends is the same everyday. So, where are their stimuli to socialize? He already has some friends. There’s no new friend. So, their socialization skill is just (no offense) inferior. They’re like a blunt knife. But, it’s compulsory for us to remember that not every school children are like that. Some school children does have an impressive level of socialization. Now, we look at homeschoolers. They have no real friends. If we count ‘real friends’ as a friend you meet everyday. So, to maintain their socialization, they have to cope with the situations. Meaning? They have to make friends with everybody that, in their opinion, is suitable to be his friends. The knife is sharpened almost every time, thus maintaining the socialization level of homeschoolers. So, actually the key to good socialization is the will to socialize. No matter what you are, ordinary students or homeschoolers, if you refused to socialize, you won’t get any friends. Get it?
Indeed, homeschooling is a family-based education. Almost all decisions are made by family. Even the decision to start doing homeschooling must be a two-way agreement. The Parent’s side and the children’s side must reach an agreement in terms of modus operandi in learning, rules and regulations, and other things.
Another thing is that patience is needed in homeschooling. The result of homeschooling won’t come instantly. Why? Because learning is not like an instant noodle. An instant noodle needs only 3 minute of process to make it ready to serve. Homeschooling’s result would only appear after some time of learning. How long would it be? It actually depends on the children’s progress and the effectiveness of the learning program. But to give you a little clue, it would be a bit longer than 3 minutes. The key is not to give childrens a lot of stimuli without pushing the homeschoolers too hard.
Please remember two more things. One, homeschooling’s not easy. I believe that not much explaining would be needed for this matter, as I have mentioned about the difficulties of doing homeschooling. What matters is that you don’t give up homeschooling just because of the pressures. And two, homeschooling is a choice. An alternative. This is not the only way of proper learning. Every child’s style is different. Some childrens, me for example, does best as a homeschooling. But other childens does better in formal school. The children’s choice must also be heard. Because, as I believed I had mentioned previously, homeschooling is a two-way agreement.
Honeschooling’s a choice, everybody. The question is:
What’s your choice?

The Future Of Asia

What would the future of Asia be? Derelict and substandard? Or nice and agreeable? It is, indeed, a question we are very anxious to answer. Some cynics may believe that the disputes and continouous wars in a few parts of Asia, added in a ghastly combination with the growing poverty rate may trigger a very unpleasant future for Asian nations. However, the future and fate of Asia truly lies in the “cleverness” of Asian peoples and mainly in the economic growth.
Why should Asian people be “clever”? “Clever” here, hardly means they have to get great scores in school, no. It means cleverness in promoting our cultural diversity to its fullest. Because, great sceneries, awe-inspiring cultures, stupendous traditions, and picturesque lands are everyday meal in Asia. If we promote all of them and show it to the world, our tourism rate would inevitably increase, thus improving the economic sector of Asia. Two jobs done in moment, eh? Of course, tourism is not the only modus operandi we have to improve our ecomony. Agricultural, industrial, and natural resources sector must also be a way of gaining more and more economic improvements.
As we all know so well, fertile and/or rich lands is easily found in almost every Asian regions. The Southeast Asian region is quite a good example of agricultural center. And despite not having fertile lands, Russia must pride themselves because of having the rich, frozen region of Siberia, that has almost all natural resources including oil, gas, copper, gold, coal, and iron ore. While nations such as China and Japan has proved themselves as some of the world’s most improved and important industrial and commercial center. All of this must be used either to improve economy by selling it to another country or using it for domestic matters. But, all of this must be used gradually and proportionally instead of using it in an ill-mannered way. Because, if not treated carefully, mining and oil digging can be a very dangerous job. And altough agricultural resources increases perpetually, natural resources such as gold, copper, nickel, etc. decreases perpetually. Moreover, unlike agricultural resources, natural resources cannot be reproduced, so that if we are out of gold, we will not be having gold again forever. Not a pleasant thing to think about, don’t you find?
But, it all would not have any benefits whatsoever if the next generations (a.k.a. childrens) aren’t prepared to carry the heavy burden of running the improving Asia. And so, how could we prepare childrens to lead and develop the future Asia? Simple. Education. Or rather, proper education.
But, what is proper education? In my point of view, a proper education is a type of education that nurtures a child’s talents. Example, if one child is good at architecture, and is interested in it, the government and/or other organizations must provide matters of education that suits the child’s talent. This also means that education nowadays needs a very large adjustment, especially the ones in, no offense, Indonesia, where education is largely robotic.
But, even if we have proper educations, helluva industries, terrific agricultures, and out-of-this-world tourism, would it all matter if we didn’t unite?
Take a look at Europe. Despite the fact that almost all of the European countries are wealthly, did they stand out by themselves? Did they become a wealthy country by themselves, without help from anybody? No. They unite as the European Union, thus becoming a major force in the modern-day world. They help each other should one of them get in any sort of trouble, they make decisions together, they even have the same currency, Euro. Imagine if we could unite like how they do, such great force we will be, don’t you think? Well, some of us may stubbornly persisted, “Yes, there’s already an organization that unites some Asian nations in certain areas!”. That persistance, is strictly correct. Example, Southeast Asian nations are united by the organization of ASEAN. But, has anybody established an organization or federation that unites the whole Asia? I don’t think so.
My point is, a type of organization similar to the European union must be established in order to unite Asian nations. Why? Because by cooperating, we would get extra benefits. Everyone knows that. Uniting could also prevent the conversion of everyday disputes into horrific war, and also stop the ongoing wars and civil wars, as negotiations and peace treaty signings would be encouraged by the organization. Actually, by looking at other countries that refused to unite and/or cooperate with other countries, we could also have a good example about what would happen if we don’t cooperate. Take a look at North Korea. The communist country refused to cooperate at all with other countries because of the juche philosophy made by their first leader Kim Il Sung. This philosophy depicts that North Korea can sustain itself and doesn’t need any help from other countries. This odd philosophy are still used by the present leader Kim Jong Il, who happens to be the son of Kim Il Sung. The result? A complete disaster. Famine in the 90’s which is caused by the withdrawal of foods subsidies from Russia and China proved it all. 3 million of people died because of severe illness and famine-related causes in 1998. Education and knowledge also become very substandard there. One day, I watched a television programme made by National Geographic Channel that shows all the things hidden by this country that, apparently and appalingly, refuses to communicate too with other countries and is in complete isolation from the rest of the world.
In that program, some reporters disguised themselves as assistant to a Nepalese doctor, who had a special license to cure thousands of cataract-infested patients. In the Pyongyang hospital, a technologically-advanced German medical machine was found, and nobody in that hospital even know what it does. All of the doctor doesn’t even know how to give an operation to a cataract patient! How absurd! The childrens are also given an unorthodox type of education. Imagine, since childhood childrens of North Korea is teached to hate the Americans. I even heard a lyric of their absurd nursery rhymes: “The dirty Americans bow before us,….” . I’m not saying this to insult the North Koreans, but I think, that is what becomes of a country that refuses to cooperate with other countries. They become derelict, shoddy and barbaric.
The ex-republic of Serbia and Montenegro is an example of nations that refused to unite. In 2006, after the continouous disputes between the Serbians and the Montenegrins, the republic parted. And did they become better countries? No. Instead, both of them become a rather poor country. And yet they aren’t tempted to reunite. Imagine again, what would become of Asia if we refused to unite and cooperate? Do we want to be torned-out like the Serbians or barbaric like the North Koreans? Of course the answer is no.
What happened to both of the countries I had mentioned is an explicit proof that if we don’t unite and snubs cooperation, whatever it is that we have achieved, whatever it is that we have toiled for, will be lost at last.
The thing is, we have a great future waiting anxiously for us. The question is, can we reach him in time before he departs? The answer lies in all of our hands.

Name of Author : Raka Ibrahim Anshafarie
Grade : 7th Grade
Age :11 Years Old
School : SAnDi KerLiP

An Article About Bullying

Waktu KerLiP mengadakan seminar dan pelatihan tentang pendidikan berbasis Hak Anak, Raka kami beri kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya. Berikut makalah yang dibawakannya di hadapan 104 guru SD-SMA se Jabar dan seorang Guru besar UPI Bandung.
Bullying dapat terjadi pada kalangan manapun. Teman sekelas di sekolah, teman sekelas di tempat les, dan bahkan orangtua, guru, serta orang dewasa lainnya berpotensi menjadi pelaku bullying. Semua tempat juga bisa menjadi ladang bullying. Tetapi, sebenarnya apa itu bullying?
Dalam definisi pribadi saya, bullying adalah suatu bentuk penindasan dimana seseorang yang lebih kuat menindas seseorang yang lebih lemah. Bentuk bullying bermacam-macam adanya, tetapi saya sendiri mengelompokkannya dengan julukan penyiksaan fisik dan penindasan mental. Penyiksaan fisik adalah suatu bentuk bullying yang menggunakan kekerasan fisik. Kekerasan itu meliputi penendangan, pemukulan, pen”jitak”an , dan lain-lain. Sementara itu, penindasan mental adalah suatu jenis bullying yang menggunakan perkataan alih-alih kekerasan fisik. Bullying ini meliputi penyebaran gosip-gosip miring, pengejekan, dan lain-lain. Sasaran bullying dalam lingkup anak-anak biasanya adalah anak-anak yang lebih lemah, cacat mental atau fisik, anak baru, dan anak yang merupakan minoritas.
Menurut penulis Barbara Coloroso dalam bukunya Penindas, Tertindas, dan Penonton, ada tiga jenis aktor dalam sandiwara bullying yaitu penindas, tertindas, dan penonton. Penindas adalah orang yang menjadi pelaku bullying, tertindas adalah yang ditindas oleh sang penindas, dan penonton adalah yang menonton ketika penindasan terjadi.
Orang dewasa, kurasa, lebih banyak menggunakan kekerasan mental. Begini, biasanya anak tertindas yang cukup berani melapor pasti akan melapor pada guru dan/atau orangtuanya serta orang terdekatnya, istilahnya, curhat. Masalahnya, banyak orang dewasa malah membenarkan alasan sang penindas untuk melakukan bullying dan/atau malah, lebih buruknya lagi, mendukung sang pelaku bullying. Menurutku, ini karena kecerdikan para penindas. Mereka mungkin menampilkan diri sebagai seseorang yang dibenci dan ditakuti di mata para murid dan kawan-kawannya, tetapi di mata guru atau orang dewasa lain, mereka berpura-pura menjadi anak baik. Bersukarela membantu, bertingkah-laku dan berbicara sopan, dan melakukan hal-hal lain yang dapat menghapus sama sekali kecurigaan terhadap mereka. Tentunya, perbuatan ini akan memberi makna baru bagi frasa, ”Ada udang dibalik batu”. Oleh karena itu, hati-hatilah! Para anak tertindas umumnya takut pada, well, segala sesuatu dalam bullying. Bukan berarti saya bermaksud bahwa mereka takut membaca makalah tentang bullying, tidak. Maksudku adalah, mereka takut pada bullying dan penindas serta takut untuk menyelesaikan masalah bullying. Belum lagi, mereka sangat ketakutan melapor kepada orang lain mengenai terjadinya bullying terhadapnya, dan ini membuat penindasan terus dilanjutkan oleh sang penindas, sebab sang penindas merasa bahwa tidak ada ancaman baginya dari orang lain saat dia melakukan bullying.
Belum lagi, anak-anak tertindas memiliki kecenderungan menyerah kepada sang penindas, yang tentunya membuat keadaan lebih parah. Kehadiran elemen ketiga dalam bullying malah membuat penderitaan mereka bertambah.
Definisi singkat mengenai sang penonton adalah bahwa mereka adalah orang yang menonton ketika bullying terjadi. Mereka memiliki kecenderungan yang sangat mengkhawatirkan, yaitu mendukung sang penindas. Bahkan, terkadang sang penonton malah ikut menjadi sang penindas dengan berpartisipasi menindas orang lain. Alasan-alasan klise seperti ”Dia (tertindas) pantas ditindas karena tidak mau diajak main.” dan lain-lain dijadikan legitimasi oleh mereka untuk tidak menghentikan aksi sang penindas atau bahkan membela sang tertindas. Bahkan, mungkin saja mereka juga takut dijadikan sasaran baru oleh sang penindas.
Tentunya, ada banyak undang-undang yang dilanggar oleh terjadinya bullying, termasuk Undang-Undang Nasional RI Tentang Perlindungan Anak serta undang-undang yang dikeluarkan Konvensi Hak Anak.
Dalam Konvensi Hak Anak, tercatat ada dua hal yang dilanggar oleh terjadinya bullying. Undang-undang yang pertama adalah Undang-Undang Pasal 16 Ayat 1 yang berbunyi: Tidak seorang anakpun dapat dikenai campur tangan sewenang-wenang atau tidak sah mengenai kehidupan pribadi, keluarga, rumah tangga, atau hubungan surat menyuratnya, ataupun diserang secara tidak sah nama baiknya.Undang-undang ini tampaknya merujuk kepada bullying jenis mental. Dimana sindiran, penyerangan nama baik, dan hal-hal lain yang disebutkan dalam undang-undang tersebut digunakan sebagai alat bullying. Ayat selanjutnya dari pasal ini memberi semacam petunjuk apabila undang-undang ayat satu dilanggar: Anak berhak atas perlindungan hukum terhadap campur tangan/serangan seperti tersebut di atas. Tentunya, ayat ini seolah memberi peringatan bagi para penindas bahwa jalan hukum dapat ditempuh apabila terjadi bullying.
Pasal 27 ayat 1-2 juga merupakan pasal yang dilanggar oleh perbuatan bullying. Pasal ini berbunyi: Negara-negara pihak mengakui hak setiap anak atas kehidupan yang layak untuk pengembangan fisik, mental, spiritual, dan sosialnya. Tentunya maksud dari pasal ini adalah bahwa anak memiliki hak atas kehidupan yang layak untuk pengembangan fisik, mental, spiritual, dan sosial mereka. Tetapi, apakah bullying membantu pengembangan fisik, mental, spiritual, dan sosial mereka? Justru sebaliknya. Penghambatan pengembangan fisik dapat saja terjadi karena stres berkelanjutan yang membuat fisik memburuk. Perkembangan mental, tentunya, malah hancur karena bullying seolah menenemkan mental tunduk kepada anak yang tertindas. Pengembangan spiritual kemungkinan besar tidak akan terjadi, dan pengembangan sosial akan terhambat karena ketika mereka ditindas, banyak orang semakin menjauhi mereka entah karena takut ditarget penindas karena dianggap membela tertindas atau alasan lainnya.
Bagi para orangtua dan yang bertanggung jawab atas anak, ayat 2 menyebutkan tugas mereka: Orangtua atau orang lain yang bertanggungjawab atas anak, mempunyai tanggung jawab utama untuk mengupayakan kondisi kehidupan yang diperlukan untuk pengembangan anak, sesuai dengan kemampuan dan kondisi keuangan mereka. Ayat ini menunjukkan tanggung jawab dari orangtua atau yang bertanggung jawab atas anak untuk terus berupaya membuat kondisi kehidupan tersebut.
Pada undang-undang Indonesia, juga terdapat beberapa ayat yang dilanggar oleh bullying, seperti pada Pembukaan UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak pasal c-d. Pasal d merupakan sambungan dari c. Bunyi pasal c adalah: Menimbang bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Pasal ini hanya menjelaskan mengenai kegunaan anak di masa depan, tetapi pasal d-lah yang penting: Menimbang bahwa agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. Dalam kedua undang-undang ini, dijelaskan efek jangka panjang dari kehidupan tanpa bullying, yang merupakan suksesnya tugas yang diemban tersebut.
Bab 3 pasal 4 dari undang-undang juga merupakan salah-satu undang-undang yang dilanggar bullying. Undang-undang itu mengatakan: Setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Yang paling saya soroti adalah kata ”dari kekerasan dan diskriminasi”. Itu berarti, anak sebenarnya berhak untuk dilindungi dari bullying, karena kekerasan dan diskriminasi juga termasuk bullying jenis mental dan fisik.
Kewajiban orangtua dan yang bertanggungjawab atas anak semakin ditegaskan dalam pasal 13 ayat 1 yang berbunyi: Setiap anak selama berada dalam pengasuhan orangtua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:
a. diskriminasi,
b. eksploitasi, baik ekonomi atau seksual,
c. penelantaran,
d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan,
e. ketidak adilan,
f. perlakuan salah lainnya.
Besarnya tanggung jawab orangtua/penanggungjawab anak semakin ditegaskan dalam ayat 2, yang berkata: Dalam hal ini, orang tua, wali, atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dalam ayat 1, maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman. Sebuah ayat yang semakin menunjukkan tanggung jawab orangtua.
Pasal 16 Ayat 1 yang juga dilanggar bullying berkata: Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Sebenarnya ayat ini memiliki makna yang kuranglebih sama dengan pasal 13 ayat 1, tapi masih ada perbedaannya.
Setelah membaca sejauh ini, pastinya satu pertanyaan terpatri dalam pikiran kita, bagaimanakah cara menghentikan bullying?
Menurut Barbara Coloroso dalam bukunya Penindas, Tertindas, dan Penonton, hal pertama yang biasanya dilakukan kebanyakan orang adalah untuk melakukan sesuatu yang biasa disebutnya sebagai solusi sementara,seperti hukuman, pencabutan hak-hak istimewa, tamparan bagi sang penindas, dan pertolongan yang segera diberikan kepada anak tertindas.
Alih-alih solusi sementara tersebut, dia merasa bahwa pendidikan moral untuk mengajari kebaikan pada mereka, sekaligus mengajarkan tentang hal yang termasuk perbuatan baik dan agar memiliki kekuatan untuk berbuat baik. Dia menambahkan bahwa seorang anak seharusnya sangat ingin menjadi orang yang bertindak dengan berani- atau baik dan adil- mengetahui cara melakukannya.
Menurutnya, meskipun sekolah dan masyarakat juga memerankan peran penting, rumah adalah tempat dia menerima pelajaran moral pertamanya. Sehingga keluarga harus dicermati.
Dia menganggap bahwa ada tiga jenis keluarga, yaitu keluarga tembok-bata, keluarga ubur-ubur, dan keluarga tulang punggung. Baik keluarga tembok-bata dan keluarga ubur-ubur berpotensi menjadikan seorang penindas, tertindas yang tidak berdaya, dan penonton yang membantu penindas/berdiri di pihaknya dan tidak berani bertindak.
Keluarga tembok-bata adalah sebuah keluarga super-kaku. Dalam keluarga jenis ini, ”bata” di”semen” bersama sehingga keluarga memiliki perintah kendali, kepatuhan, ketaatan kepada peraturan, dll. Anak-anak kerap diperalat, dikontrol, dan dipaksa berpikir, sementara pemikiran dan perasaan mereka sendiri terabaikan. Secara keseluruhan, Coloroso menggambarkan keluarga tembok-bata sebagai sesuatu yang pada dasarnya merupakan sebuah hubungan yang bersifat diktator. Ciri-cirinya diantaranya adalah:
1. Ortu memiliki wewenang absolut, meneguhkan perintah-perintah, dan selalu menang.
2. Penegakan hukum secara kaku melalui kekerasan aktual atau khayalan serta ancaman.
3. Upaya mematahkan kehendak dan semangat anak dengan memberi rasa takut dan hukuman,
4. Penggunaan hinaan,
5. Penggunaan ancaman dan oenyuapan yang diperluas,
6. Sangat mengandalkan kompetisi,
7. Pembelajaran terjadi dalam atmosfer ketakutan.
8. Cinta yang bersyarat,
9. Anak diajari tentang hal yang harus dipikirkan dan bukan cara berpikirnya.
Bagaimanakah keluarga ini membentuk sebuah penindas? Perlu dicatat, bahwa hukuman fisik banyak dilakukan dalam keluarga ini. Sehingga, para calon penindas menganggap pemukulan, penendangan, cercaan, dan hal-hal lain yang pernah terjadi kepada mereka saat dihukum sebagai sesuatu yang diperbolehkan. Poin 7 mengenai pembelajaran dalam atmosfer ketakutan menimbulkan perasaan takut salah, bukan takut berbuat salah, pada anak, sehingga anak sering menyalahkan diri sendiri untuk kejadian penindasan terhadap mereka apabila merekalah sasaran, dan sikap apatis penonton yang takut mengambil risiko dan khawatir tidak melakukan sesuatu dengan benar. Sesungguhnya, keluarga jenis ini memang menghasilkan banyak penindas.
Keluarga ubur-ubur merupakan kebalikan keluarga tembok bata. Keluarga jenis ini sangat tidak terarah dan menetapkan disiplin yang longgar sekali. Orangtua menjadi plin-plan dan tidak jelas, memiliki cinta bersyarat sangat banyak, dan di beberapa kasus ortu secarafisik/psikologis menyingkirkan anak-anak dan memaksa mereka membela diri sendiri. Anak mendapat semua materi yang dibutuhkan, tapi tidak dapat kasih sayang, dekapan, dll. Perasaan hilang ini terlihat dalam hati yang rusak- rasa putus asa dan sedih. Anak mulai percaya bahwa kalau ada yang harus dilakukan, mereka harus melakukannya sendiri. Merasa tidak dicintai, tersingkir, dan mulai tidak percaya pada orang lain, mereka mulai belajar membohongi dan memanipulasi orang lain guna mendapat kebutuhan mereka. Karena lenggangnya disiplin dan kurangnya perhatian, maka penindas beraksi tanpa dapat ketahuan.
Keluarga jenis terakhir adalah keluarga tipe tulang-belakang yang penuh dengan kepedulian antarsesama keluarga. Disini, anak diajari bahwa mereka memiliki kebebasan menjadi diri sendiri sehingga mereka tidak perlu memanipulasi siapapun, menghina, atau menyerahkan diri ke penindas. Disini, anak-anak diberi banyak uluran kasih sayang dan dukungan terhadap anak, yang membuat moral sangat tinggi. Disini, anak-anak belajar untuk menerima perasaan mereka dan bertindak dengan bertanggung jawab pada perasaan itu melalui kesadaran diri. Cinta disini tak bersyarat seperti di 2 keluarga lainnya, dan anak dilindungi dari kemungkinan terkena dampak penindas atau kebutuhan menjadi penindas melalui peneguhan pesan-pesan yang menyuburkan suatu kesadaran diri yang kuat setiap hari. Pesan-pesan tersebut adalah aku menyukai diriku, aku dapat berpikir untuk diriku sendiri, tidak ada masalah yang sangat besar hingga tak terpecahkan. Dengan seluruh motivasi ini, keluarga tulang-belakang jelas merupakan yang terbaik dalam menyembuhkan bullying.
Kesimpulannya, untuk merubah siklus kekerasan dibutuhkan sesuatu yang disebut keberanian.Bagi penindas, mereka harus berani mengaku mereka salah, meminta maaf kepada yang telah ditindasnya, dan mencari solusi bagi masalah. Bagi tertindas, mereka harus berani menghadapi penindas dan bertindak tegas padanya. Penonton harus berani mawas diri bahwa kelakuan penindas salah, dan harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya atau melaporkan kejadian tersebut. Dan darimana didapatkannya keberanian itu? Motivasi dan dukungan dari orangtua dan orang terdekat.
Satu hal lagi yang ditambahkan papaku, seluruh sekolah, institusi, dan orang harus sepakat bahwa bullying itu tidak dapat ditolerir sedikitpun dan harus dihentikan segera.
So, if your kid if a victim of bullying, don’t just sit back and relax. Do something. NOW.